Oleh: Oyong Liza Piliang
Lebaran lengang dari biasanya, orang ramai seketika, lalu lengang besoknya, pertanyaan itu terus menggumam. Namun jauh di balik samudera, seseorang membubuhkan paraf dan stempel basah yang akan mengubah segalanya.
Bila sudah menghadapi situasi seperti ini, kita tidak lagi bicara soal Pariaman, Sumatera Barat, atau kampung-kampung kecil yang dulu tenang di balik bukit dan laut. Kini, mereka akan masuk dalam pusaran global, dalam gelombang besar yang tak bisa mereka bendung sendiri, dan mungkin tanpa mampu melakukan hal berarti.
Untuk sesaat, mari kita angkat pandangan. Melihat dari ketinggian sejarah. Bukan sekadar untuk memahami dunia, tetapi untuk memahami nasib anak-anak kita, penerus bangsa, warga Pariaman, ranah Minang, dan Indonesia. Sebab keputusan yang lahir ribuan mil dari sini, bisa menentukan harga beras di Pasar Kuraitaji dan jumlah siswa yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.
---
Situasi perang dagang global hari ini belum pernah terjadi sejak manusia mengenal konsep negara-bangsa dan garis batas. Bahkan, ketika Inggris dan Prancis berseteru selama seratus tahun pun, atau ketika Amerika dan Soviet mengancam dunia dengan nuklir di era Perang Dingin, dunia tetap bisa memperdagangkan gandum, karet, dan baja.
Tapi hari ini, sejarah mengambil jalur lain.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tokoh yang memimpin bukan hanya dengan kebijakan, tetapi dengan ego geopolitik memukul genderang tarif impor. Semula menargetkan China, negeri yang dianggap telah mencuri dominasi ekonomi global Amerika. Tapi perang dagang ini tak berhenti di Beijing. Kini ia merembet ke Eropa, Asia, dan bahkan Kanada -- sekutu yang selama ini berbagi data intelijen, operasi militer, hingga menandatangani deklarasi bersama tentang terorisme.
Dan Indonesia? Negeri yang selama ini dipandang aman karena dianggap mitra strategis regional, tidak lagi kebal. Pada 2 April 2025, Trump resmi menaikkan tarif impor sebesar 32 persen untuk produk-produk asal Indonesia. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah ketukan palu di meja sejarah.
Gelagat ini sudah dirasakan Maret lalu lewat reaksi pasar. Dalam satu hari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas 7,1 persen penurunan paling tajam sejak krisis Eropa 2011. Rupiah melemah ke titik Rp16.640 per dolar AS, mendekati level terendah sejak krisis finansial Asia 1998. Harga emas meroket karena lunturnya kepercayaan kepada mata uang sebagai alat tukar tradisional yang labil.
Dan yang paling terasa: ekspor Indonesia, terutama sektor tekstil dan karet, yang banyak menopang kehidupan kelas pekerja -- dihantam keras. Produk-produk yang dulunya dikapalkan ke Amerika, kini tak lagi kompetitif. Gudang penuh, pabrik melambat, PHK membayangi. Di balik angka dan grafik ekonomi, ada ribuan wajah keluarga yang mulai gelisah.
Kebijakan Trump tidak hanya menjadi tajuk utama CNBC atau Financial Times. Ia juga menjadi bahan diskusi panas di media sosial, analisis mendalam di ruang redaksi ekonomi lokal, hingga video TikTok berdurasi satu menit yang mencoba menjelaskan kompleksitas perdagangan global dengan animasi lucu dan musik latar dramatis.
Tapi di luar narasi-narasi digital, dampaknya nyata. Di Pariaman, misalnya, nelayan kecil mungkin tak tahu istilah "retaliasi tarif", tapi mereka tahu harga bekal naik dan daya beli masyarakat turun. Petani tahu hasil panen susah dijual. Dan para orang tua tahu uang untuk membayar seragam sekolah anaknya mulai tergerus.
---
Saat dunia mengubah aturan main tanpa menanyakan pendapat kita, kita harus memutuskan apakah akan menjadi korban sejarah atau penulisnya. Pemerintah bisa memperkuat diplomasi ekonomi, memperluas pasar ekspor ke Asia Tengah atau Afrika, mempercepat industrialisasi dalam negeri, dan mendukung UKM dengan kebijakan konkret -- bukan hanya seremoni.
Tapi rakyat juga perlu bangkit dari kebiasaan menunggu. Petani harus melek pasar, pengusaha harus melek digital, dan pemerintah daerah harus berani melakukan inovasi. Sebab dalam sejarah peradaban, yang selamat bukanlah yang paling kuat, tetapi yang paling cepat beradaptasi.
Dari pinggir Samudra Hindia, dari kota kecil bernama Pariaman, kita mungkin tidak bisa mengubah arah angin global. Tapi kita bisa mengatur layar kita. Kita bisa menyiapkan anak-anak kita agar kelak bukan hanya menjadi penonton sejarah, tapi aktor utamanya.
Karena ketika dunia terbakar, tidak cukup hanya berdoa dari tepi. Kita harus turun tangan, memadamkan api dengan ilmu, dengan solidaritas, dan dengan kebijakan yang berpihak pada mereka yang paling terdampak.
Dan mungkin, kelak, dari sini akan lahir kisah tentang kebangkitan sebuah bangsa --- bukan karena dilindungi, tetapi karena mampu berdiri sendiri.